Etika Lingkungan

ETIKA LINGKUNGAN

Permasalahan lingkungan hidup mendapat perhatian besar dari hampir semua negara-negara di dunia. Ini terutama terjadi dalam dasawarsa 1970-an setelah diadakannya konferensi PBB tentang lingkungan hidup di Stokholm pada tanggal 5 Juni 1972. Konferensi ini kemudian dikenal dengan Konferensi Stokholm, dan pada hari dan tanggal itulah kemudian ditetapkan sebagai hari lingkungan hidup se-dunia.

Di Indonesia, perhatian tentang lingkungan hidup telah muncul di media massa sejak tahun 1960-an. Suatu tonggak sejarah tentang lingkungan hidup di Indonesia ialah diselenggarakannya Seminar Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Pembangunan Nasional oleh Universitas Padjajaran di Bandung pada tanggal 15-18 Mei 1972. Seminar itu merupakan seminar pertama tentang lingkungan hidup yang diadakan di Indonesia.[1] Selain itu, pada awal Juli 1973, Dr. Sumarlin dalam rangka Hari Lingkungan Hidup Dunia menyatakan adanya tiga prioritas dalam menanggulangi problematika lingkungan di negeri ini, antara lain: di lautan (pertambangan minyak di lepas pantai) dan di perkotaan (unrbanisasi liar dan indutrialisasi yang pincang).[2]

Diakui atau tidak, bahwa munculnya kerusakan alam adalah akibat dari ulah manusia. Ini terbukti dengan pesatnya pembangunan dewasa ini, selain memberikan dampak yang menggembirakan karena banyaknya manfaat yang telah dirasakan manusia untuk kemudahan dalam menjalani kehidupanya, juga memberikan dampak negatif berupa sumber daya alam dan lingkungan yang banyak mengalami degradasi. Jika kondisi ini terus berlanjut, daya dukung lingkungan bumi tidak akan sanggup lagi menanggung bebannya. Akibatnya adalah kehancuran semua spesies yang ada di dunia, termasuk manusia.[3]

Pada hakikatnya, kerusakan alam dimunculkan akibat perubahan paradigma epistemologi barat yang terlalu mengandalkan temuan-temuan sains modern. Ini artinya percobaan mesin-mesin hasil temuannya mengakibatkan kerusakan alam secara global. Kenyataan yang sedemikian menghebohkan ini mengundang para pemikir Barat sendiri untuk mengkritisi corak pemikiran epistemologi sains Barat. Salah satunya adalah Gregory Bateson, yang pemikirannnya berciri-khaskan keprihatinan. Bateson menyatakan bahwa kesalahan epistemologi Barat melahirkan ancaman bencana, mulai dari obat pembasmi serangga sampai polusi, jatuhan radio aktif dan kemungkinan melelehnya es antartika sampai pada taraf desakan yang sangat kuat untuk menyelamatkan kehidupan individual yang berakibat terciptanya kemungkinan bahaya kelaparan dunia di masa mendatang. Lebih jauh Bateson mengungkapkan, alangkah beruntungnya bila kita masih bisa melampaui dua puluh tahun ke depan tanpa adanya bencana yang lebih serius daripada kehancuran suatu bangsa atau sekelompok bangsa semata. Ini semua akibat dari kesalahan-kesalahan dalam kebiasaan-kebiasaan pemikiran kita pada tingkat yang sangat mendalam tanpa sepenuhnya kita sadari”.[4] Dengan demikian, gejala perusakan semacam ini bisa dikategorikan sebagai overeksploitasi alam.

Akibat-akibat dari overeksploitasi manusia terhadap alam, lingkungan dan sumber daya-sumber daya lainnya adalah munculnya—apa yang sering disebut sebagai—pollutin, yaitu suatu pencemaran atau polusi yang membahayakan yang disebarkan ke dalam lingkungan karena aktivitas manusia. Sementara overeksploitasi pada awalnya ditujukan untuk memeras sumberdaya alam sebanyak-banyaknya guna memperpanjang hidup manusia. Akan tetapi overeksploitasi ini juga mengakibatkan terganggunya keseimbangan ekologis, dalam arti menyederhanakan ekosistem; berupa aktivitas manusia yang bersenjatakan teknologi baik jenis yang tradisional maupun yang modern, menyederhanakan biome dan habitat, sehingga kekomplekan yang stabil menjadi goyah, yang mengakibatkan simfoni alam menjadi kakofoni.[5]

Di sisi lain untuk memenuhi kebutuhan dan kepentingan manusia yang semakin berkembang, dunia telah kehilangan kurang lebih 116 mil persegi hutan hujan, 72 mil di antaranya jadi gurun, kehilangan 40-100 spesies makhluk hidup, bertambahnya clorofluro carbon (CFC) sebanyak lebih kurang 2.700 ton, carbon di atmosfir sebanyak 15 juta ton.[6] Data ini telah membuktikan bahwa manusia saat ini telah melakukan banyak sekali kerusakan terhadap bumi.

Tidak bisa disangkal bahwa berbagai kasus kerusakan lingkungan hidup yang terjadi sekarang ini, baik pada lingkup global maupun lingkup nasional, sebagian besar bersumber dari perilaku manusia. Kasus-kasus pencemaran dan kerusakan, seperti di laut, hutan, atmosfir, air, tanah, dan seterusnya bersumber pada perilaku manusia yang tidak bertanggung jawab, tidak peduli dan hanya mementingkan diri sendiri. Manusia adalah penyebab utama dari kerusakan dan pencemaran lingkungan.[7] Mengenai hal ini sejalan dengan firman Allah dalam QS. Ar-Rum [30]: 41.

Artinya:

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan Karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS. Ar-Rum [30]: 41)

Oleh karena itulah, untuk menanggulangi kerusakan dan pencemaran ini dibutuhkan kesadaran dan partisipasi dari segenap elemen masyarakat. Karena ekologi sangat berharap pada kesadaran manusia sebagai the highest animal yang paling mampu beradaptasi dengan lingkungan. Selain itu, di antara organisme-organisme yang ada, hanya homo sapienslah yang memiliki kesadaran berevolusi dan mampu mengarahkan dengan cara memanfaatkan segenap sifat intelektual, sosial dan spiritual.[8]

Berbagai kerusakan lingkungan sebenarnya tidak pernah lepas dari bagaimana sikap manusia dalam memanfaatkan alam. Cara pandang antroposentris telah membawa manusia pada titik puncak kekuasaannya terhadap alam. Sikap mementingkan diri sendiri dan sikap tidak bertanggung jawab atas perbuatannya terhadap lingkungan, telah menyebabkan manusia sebagai dalang utama dalam kerusakan lingkungan.

Terlepas dari berbagai kerusakan alam yang terjadi, memang sudah ada hukum dan undang-undang mengenai lingkungan hidup. Tetapi perundang-undangan dan hukum-hukum tersebut belum begitu maksimal dalam aplikasi di lapangan. Hal ini mendorong penulis untuk mengkaji ulang aspek hukum positif yang melindungi kelestarian lingkungan. Karena peran hukum sangat penting dalam mengatasi persoalan lingkungan. Terlebih manusia sebagai makhluk sosial mempunyai dua keterikatan hukum, yaitu sebagai warna Negara dan sebagai pemeluk suatu agama.

Dalam Islam, alam dan manusia merupakan dua entitas yang berbeda tetapi hakikatnya adalah sama, atau dengan lain kata—meminjam istilah sufi—“satu jiwa yang terperangkap dalam dua tubuh”. Dalam pandangan Jalaluddin Rumi, ini artinya bahwa alam semesta merupakan makhluk yang dikarunia kehidupan, bahkan kecerdasan, sehingga ia mampu mencinta dan dicintai, lebih-lebih alam juga mencintai Tuhannya. Dimana Tuhan, adalah pesona yang penuh keindahan dan cinta. Dan motif Tuhan dalam menciptakan alam semesta ini adalah cinta. Alam, lingkungan dicipta oleh Tuhan atas dorongan cinta, dan karena itu, cinta Tuhan meresap ke dalam seluruh bagian alam, bahkan seluruh partikel-partikelnya. Lantas, bagaimana manusia tidak mencintai alam dan lingkungan, sementara Tuhan sebagai sang Pencipta saja selalu memanjakan dan mencintai alam.

Dalam hal ini, pemerintah Indonesia sebenarnya sudah membuat aturan tentang lingkungan. Pemerintah membuat departemen khusus yang mengurusi masalah ini. Langkah yang dilakukan oleh pemerintah dengan membuat Departemen Lingkungan Hidup dan Departemen Kehutanan dan Perkebunan ini sebagai upaya untuk merawat dan menjaga alam agar tidak rusak oleh tangan-tangan kotor manusia yang tidak bertanggung jawab.

Sampai sejauh ini, upaya kesadaran manusia secara individu akan pentingnya pelestarian dan etika linkungan hanya berimplikasi sedikit. Oleh karena itu, perlu dilakukan sebuah pendekatan pengelolaan lingkungan hidup yang berbasis masyarakat. Dengan mengacu pada perspektif Carter (1996) yang bahwa pengelolaan sumber daya berbasis masyarakat merupakan suatu strategi untuk mencapai pembangunan yang berpusat pada manusia, dimana pusat pengambilan keputusan mengenai pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan di suatu daerah terletak di tangan masyarakat tersebut. Dalam hal ini, masyarakat sendiri yang mendefinisikan kebutuhan, aspirasi, tujuan, membuat perencanaan dan keputusan demi kesejahteraan mereka. Jadi, dalam model pengelolaan berbasis masyarakat ini memberikan ruang yang luas untuk partisipasi masyarakat untuk ikut aktif dalam proses pengelolaan dan pelestarian lingkungan.

Secara antropologis, masyarakat bukanlah entitas yang independen. Terdapat seperangkat nilai, moral dan pranata yang memengaruhi perilaku individu dalam masyarakat. Pengetahuan dan keyakinan dalam masyarakat merupakan seperangkat konsep, nilai, sistem kategori, metode dan teori-teori yang digunakan secara selektif dalam berhubungan dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Dengan demikian etika lingkungan berbasis masyarakat sangat dipengaruhi oleh cara pandang, budaya dan keyakinan nilai yang melingkupi masyarakat setempat.

Oleh karena itu, usaha ini haruslah menjadi kesadaran kolektif masyarakat baik sebagai warga Negara serta pemeluk agama, sehingga akan terasa pengaruh yang signifikan. Artinya, sebagai warga Negara harus menyikapi hukum secara positif dan mematuhinya, dan sebagai pemeluk suatu agama (baca: Islam) harus memiliki nurani untuk membaca ulang firman Tuhan yang mengajarkan manusia untuk bersikap ‘arif terhadap lingkungan dan mematuhi ajaran normatif dalam agama itu sendiri.

Dengan demikian, Islam sebagai seperangkat nilai memiliki peranan signifikan dalam pengelolaan sumber daya alam, khususnya pengelolaan ekosistem berbasis masyarakat di Indonesia. Hal ini didukung oleh realitas bahwa masyarakat Indonesia merupakan masyarakat agamis sebagaimana ditunjukkan oleh beragam data statistik tentang jumlah pemeluk agama Islam di Indonesia. Dengan demikian peluang untuk rehabilitasi lingkungan hidup melalui pintu kesadaran keberagamaan menjadi lebih terbuka, tergantung bagaimana agama atau institusi keagamaan merumuskan etika lingkungan yang mengarah pada konstruksi alam yang serba damai, tentram tanpa kerusakan.

Selanjutnya, berdasarkan beberapa contoh ataupun cara-cara pelestarian lingkungan sebagaimana tersebut di atas, perlu kiranya untuk meninjau ulang pola dan bentuk hukum Islam dan hukum positif—dalam hal ini yang menjadi acuan adalah UU Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup—menyikapi hal-hal mengenai pelestarian lingkungan, serta perspektif keduanya mengenai kerusakan lingkungan dan cara penanggulangannya. Terlepas dari dialektika dalam agama, bahwa hal ini juga merupakan proses menilik ulang tentang jargon mengenai baik dan buruknya sebuah Negara bisa dilihat dari ada dan tidaknya atau berjalan dan dijalankannya hukum tentang lingkungan hidup, serta bagaimana menjalankan hukum-hukum tersebut.[g]


[1]Otto Soemarwoto, Ekologi Lingkungan Hidup dan Pengembangan (Jakarta: Djambatan, 2001), hlm. 1

[2] Harian Kompas, 7 Juni 1973, “Tiga Prioritas Dalam Menanggulangi Lingkungan Hidup di Indonesia”

[3]Lester R. Brown, Dkk, Masa Depan Bumi, terj. Handoko (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1995), hlm. 477

[4] Gregory Bateson, Step an Ecology of Mind (Paladin: t.p., 1973), hlm. 463,

[5]N. Daldjoeni, “Ekologi dan Agama” dalam M. Amin Abdullah, dkk, Re-strukturalisasi Metodologi Islamic Studies Mazhab Yogyakarta (Yogyakarta: Suka-Press, 2007), hlm. 155.

[6]Persoalan ini dikemukan oleh Drs. I Wayan S. Satria MM, dosen Etika Institut Ilmu Sosial dan ilmu Politik (IISP) Jakarta, juga dosen Filsafat di Universitas Gajah Mada yogyakarta, jum’at 3 Feb 2006. Lihat Erwin Edhi Prasetya, “Membangun Etika Lewat Kearifan Masyarakat Kompas, Sabtu, 4 Feb 2006, hlm. 5.

[7]A. Sonny Keraf, Etika Lingkungan, (Jakarta: Kompas, 2002), hlm xiii.

[8]N. Daldjoeni, “Ekologi dan Agama” ., hlm.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: