<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Masghent's Blog</title>
	<atom:link href="http://masghent.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://masghent.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Sat, 28 Feb 2009 08:27:32 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='masghent.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/c1a263654d3db88a0d25de453d3513c5?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Masghent's Blog</title>
		<link>http://masghent.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://masghent.wordpress.com/osd.xml" title="Masghent&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://masghent.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Bai&#8217;ah Khilafah</title>
		<link>http://masghent.wordpress.com/2009/02/28/artikel-2/</link>
		<comments>http://masghent.wordpress.com/2009/02/28/artikel-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Feb 2009 08:02:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>masghent</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Islam]]></category>
		<category><![CDATA[khilafah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://masghent.wordpress.com/?p=13</guid>
		<description><![CDATA[BAI’AH KHILAFAH Islam yang dikenalkan Rasulullah sejak pertama kali ditengah-tengah masyarakat Arab merupakan sebuah dialektika antara wahyu Allah dan realitas yang menyertainya dalam koridor sosio-kultural Arab, sehingga Islam memainkan perannya secara dinamis sebagai Agent of Changes bagi tingkat pertumbuhan dan kemajuan peradaban Arab.[1] Secara teologis, Islam merupakan sistem nilai dan ajaran yang bersifat Ilahiyah dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masghent.wordpress.com&amp;blog=6767948&amp;post=13&amp;subd=masghent&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--><!--[if !mso]&gt;--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--> <strong><em><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US">BAI’AH KHILAFAH </span></em></strong><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US"><em><br />
</em></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Islam yang dikenalkan Rasulullah sejak pertama kali ditengah-tengah masyarakat Arab merupakan sebuah dialektika antara wahyu Allah dan realitas yang menyertainya dalam koridor sosio-kultural Arab, sehingga Islam memainkan perannya secara dinamis sebagai <em>Agent of Changes</em> bagi tingkat pertumbuhan dan kemajuan peradaban Arab.<a name="_ftnref1" href="#_ftn1"><span class="FootnoteCharacters"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="FootnoteCharacters"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Secara teologis, Islam merupakan sistem nilai dan ajaran yang bersifat Ilahiyah dan ka</span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US">r</span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">ena itu s</span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US">e</span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">kaligus bersifat transenden. Tetapi dipandang dari sudut sosiologis, Islam merupakan fenomena peradaban, kultural, realitas sosial dalam kehidupan manusia. Islam dalam realitas sosial, tidak sekedar sejumlah doktrin yang bersifat universal dan menzaman, tetapi juga mengejawantah dalam institusi-institusi sosial, yang dipengaruhi oleh situasi dinamika ruang dan waktu.<a name="_ftnref2" href="#_ftn2"><span class="FootnoteCharacters"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="FootnoteCharacters"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">[2]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Salah satu diskursus kesejarahan yang paling menarik adalah mengenai relasi agama, kekuasaan dan kedaulatan dalam perspektif Islam. Hal ini terkait dengan dua persoalan yang definisi dan pemahamannya masih kabur. <em>Pertama,</em> karakter dan bentuk Islam sebagai sistem keagamaan dan pranata sosial. <em>Kedua</em>, karakter dan bentuk Islam sebagai institusi kekuasaan, institusi negara dan juga institusi pemerintahan. Kekaburan tersebut bersifat terminologis, di mana tidak ada terminologi baku untuk menjelaskan persoalan-persoalan tersebut yang dapat diterima tanpa menimbulkan diskusi dan interpretasi.<a name="_ftnref3" href="#_ftn3"><span class="FootnoteCharacters"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="FootnoteCharacters"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">[3]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Paling tidak ada tiga fese corak pemikiran politik umat Islam. <em>Pertama</em>, pasca Rasulullah dan masa </span><em><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">K<span>hulafa al-Rasyidi&gt;n</span></span></em><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">. Pada masa ini, bangunan politik Islam belum memiliki corak dan pola yang baku, mulai dari pengangkatan khalifah, hingga mengakhiri jabatanya sebagai kepala negara. <em>Kedua</em>, masa klasik dan pertengahan, mulai ada diskursus<span> </span>yang bersifat teologis filos</span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US">o</span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">fis. Pemikiran tokoh-tokoh pada masa ini, seperti Ibn Arabi, al-Mawardi, al-Gazali, Ibn Taimiyah, Ibn Khaldun, dan lainnya, pada umumnya berangkat pada realitas penerimaan sistem kekuasaan. Selanjutnya, <em>ketiga</em>, memasuki abad 19 dan 20, pemikiran politik para cendekiawan muslim mengalami pergeseran par</span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US">a</span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">digma yang berbeda dari sebelumnya,<a name="_ftnref4" href="#_ftn4"><span class="FootnoteCharacters"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="FootnoteCharacters"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">[4]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> dari teologis-filosofis ke filosofis-empiris.<a name="_ftnref5" href="#_ftn5"><span class="FootnoteCharacters"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="FootnoteCharacters"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">[5]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> pada masa ini, sebagian para pemikir muslim mulai mengenal paham dan konsep politik baru dari dunia Barat, seperti Nasionalisme, liberalisme-kapitalisme, sosialisme, demokrasi dan sebagainya.<a name="_ftnref6" href="#_ftn6"><span class="FootnoteCharacters"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="FootnoteCharacters"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">[6]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Perkenalan para cendekiawan muslim terhadap Barat, membawa implikasi bagi kelahiran berbagai perspektif dan aliran pemikiran politik Islam. Menurut Munawir Syadzali, ada tiga paradigma dalam pemikiran politik Islam. <em>Pertama</em>: paradigma yang menyatakan bahwa Islam adalah agama yang sempurna dan serba lengkap yang mengatur segala aspek kehidupan, termasuk negara (politik); <em>kedua:</em> paradigma yang menyatakan bahwa al-Qur&#8217;an tidak pernah mengatur masalah politik atau ketatanegaraan; dan <em>ketiga</em>: paradigma yang mengambil jalan tengah bahwa dalam al-Qur&#8217;an tidak terdapat sistem ketatanegaraan, tetapi terdapat seperangkat tata nilai etika bagi kehidupan bernegara.<a name="_ftnref7" href="#_ftn7"><span class="FootnoteCharacters"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="FootnoteCharacters"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">[7]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span class="FootnoteCharacters"> </span>Perbedaan paradigma tersebut, terkait dengan bagaimana dan sejauhmana orang memahami sumber utama Islam, al-Qur&#8217;an dan sunnah Rasul.</span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"> </span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Meskipun berasal dari sumber yang sama, tetapi antara satu golongan dengan golongan lainnya berbeda dalam pemahaman. </span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US">Sebagian memahami pesan-pesan yang terdapat dalam kedua sumber tersebut secara tekstual, sedangkan yang lainnya memahaminya secara kontekstual. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US">Paradigma yang menyatakan bahwa Islam adalah agama yang sempurna dan mengatur segala aspek kehidupan manusia menarik untuk dicermati, termasuk kehidupan bernegara (politik), karena paradigma ini banyak digunakan oleh kelompok-kelompok Islam fundamentalis<a name="_ftnref8" href="#_ftn8"><span class="FootnoteCharacters"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="FootnoteCharacters"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">[8]</span></span><!--[endif]--></span></span></a>. </span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US">Menurut pendapat kelompok fundamentalis, Islam adalah satu-satunya tatanan dan undang-undang hidup yang benar, yang selalu mengungguli semua tatanan dan undang-undang hidup buatan manusia, di mana saja dan kapan saja.<a name="_ftnref9" href="#_ftn9"><span class="FootnoteCharacters"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="FootnoteCharacters"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">[9]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US">Sebagai sebuah konsep kebenaran yang sempurna, Islam membawa umat yang mengimaninya dan mengamalkannya secara <em>ka&gt;ffah</em> kepada kejayaan, kemuliaan, ketentraman, kemakmuran dan keselamatan dunia dan akhirat. Kondisi umat Islam sekarang yang tidak mencapai hal tersebut, bukan diakibatkan karena menyusutnya kebenaran yang dibawa agama Islam atau ketidakmampuan Islam memenuhi tuntutan zaman, tetapi kesalahan ini terletak pada umat yang kurang benar pemahamannya tentang agama Islam sehingga membawa kesalahan dalam mengamalkannya.<a name="_ftnref10" href="#_ftn10"><span class="FootnoteCharacters"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="FootnoteCharacters"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">[10]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US">Adapun cara mengamalkan Islam menurut al-Qur&#8217;an dan Sunnah meliputi tiga amalan pokok: <em>pertama,</em> Islam wajib diamalkan secara murni, tidak bercampur dengan ajaran dan hukum-hukum buatan manusia. <em>Kedua</em>, Islam wajib diamalkan secara <em>ka&gt;ffah</em>, menyeluruh tidak terpotong-potong, sebagian syariatnya diamalkan dan sebagian lagi ditinggalkan. Dan <em>ketiga,</em> Islam wajib diamalkan secara ber-<em>daulah/</em>dengan kekuasaan, bukan sendiri-sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US">Yang dimakud mengamalkan Islam secara murni adalah mengamalkan Islam sebagai satu-satunya tatanan dan undang-undang hidup yang <em>h}aq </em>dan sempurna. Pengamalan Islam secara murni tersebut mempunyai implikasi kepada cara kedua, yaitu pengamalan Islam secara <em>ka&gt;ffah.</em> Mengamalkan Islam secara murni dan <em>ka&gt;ffah</em> tidak mungkin dapat diwujudkan jika tidak diamalkan dengan cara pemerintahan yang berasaskan al-Qur&#8217;an dan Sunnah. Oleh karena itu, pemerintahan Islam (<em>Daulah Isla&gt;miyah/Khilafah</em>) merupakan suatu keharusan<a name="_ftnref11" href="#_ftn11"><span class="FootnoteCharacters"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="FootnoteCharacters"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">[11]</span></span><!--[endif]--></span></span></a>.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US">Pemahaman di atas memunculkan gerakan-gerakan Islam yang gencar memperjuangkan Islam sebagai sistem politik, salah satunya adalah <em>H{izb al Tah{ri&gt;r</em> <em>al-Isla&gt;mi</em>. Gerakan ini muncul dari gerakan <em>al-Ikhwa&gt;n al-Muslimi&gt;n</em> di Yerusalem pada 1952 yang dipimpin oleh Taqi al-Di&gt;n al-Nabhani (1905-78).<a name="_ftnref12" href="#_ftn12"><span class="FootnoteCharacters"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="FootnoteCharacters"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">[12]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Menurut <em>Hizb ut-Tahrir </em>(selanjutnya disingkat HT),<a name="_ftnref13" href="#_ftn13"><span class="FootnoteCharacters"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="FootnoteCharacters"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">[13]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> penerapan sistem Islam secara menyeluruh adalah manifestasi keimanan, konskwensi logis dari kewajiban untuk melaksanakan Islam secara menyeluruh (<em>ka&gt;ffah</em>) dan realisasi dari kewajiban untuk <em>bai’ah </em>(memilih pemimpin/khalifah). Salah satu dasar fundamental yang dijadikan landasan keharusan tegaknya pemerintahan Islam adalah hadis yang diriwayatkan<span> </span>dari Abdullah bin Umar, bahwa Rasulullah pernah bersabda:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;margin:0 -.1pt .0001pt 0;" dir="rtl"><span style="font-size:16pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="AR-SA">مَنْ خَلَعَ يَدًا مِنْ طَاعَةٍ لَقِيَ اللهَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لاَ حُجَّةً لَهُ وَ مَنْ مَاتَ وَ لَيْسَ فِيْ عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:57.25pt;text-indent:-3.25pt;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US">Artinya: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:57.25pt;text-indent:-.55pt;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">Siapa saja yang melepaskan tangan dari ketaatan, ia akan menjumpai Allah pada hari kiamat tanpa memiliki hujjah. Dan barangsiapa yang mati, sedangkan dipundaknya tidak terdapat bai’ah (kepada khalifah), maka ia mati seperti kematian Jahiliyyah. (HR. muslim).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-indent:36pt;line-height:150%;"><em><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="SV">Hadis tersebut, dan juga hadis yang senada, menurut HT, dengan tegas menerangkan wajibnya diadakan kekuasaan Islam, karena tanpa kekuasaan, pengamalan Islam tidak akan terwujud secara baik dan </span><em><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US">ka&gt;ffah</span></em><span class="FootnoteCharacters"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US"> <a name="_ftnref14" href="#_ftn14"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="FootnoteCharacters"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">[14]</span></span><!--[endif]--></span></a></span></span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="SV">. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US">Di sinilah, menurut penulis, letak pentingnya penelitian ini. Secara normatif, hadis merupakan sumber agama Islam yang kedua setelah al-Qur&#8217;an, mempunyai kedudukan yang penting dalam memahami Islam.<a name="_ftnref15" href="#_ftn15"><span class="FootnoteCharacters"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="FootnoteCharacters"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">[15]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Dalam hal ini, pemahaman di atas berangkat dari kerangka normativitas hadis atau berangkat dari konsep doktrinal-teologis, yaitu suatu bentuk pemahaman yang berangkat dari teks-teks keagamaan saja, di mana pemahaman semacam ini hanya akan mengalami perdebatan-perdebatan panjang yang tak berkesudahan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US">Oleh karenanya, penelitian ini perlu dilengkapi dengan menilik ulang aspek historisitas kemunculan sebuah hadis. Aspek kedua ini akan melihat </span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US">interpretasi dan pemahaman orang-perorang atau kelompok-perkelompok terhadap suatu ajaran yang ditelaah lewat pembacaan sejarah sosial, politik, dan polemik yang mengitarinya dari lahir hingga dibakukannya konsep ini dalam kancah pemikiran HT.<a name="_ftnref16" href="#_ftn16"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">[16]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Karena</span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US"> pemahaman yang tepat, proporsional dan representatif sangat diperlukan untuk menghindari adanya pemaksaan gagasan. Untuk itu perlu dilakukan kajian yang lebih mendalam atas pemahaman terhadap sumber ajaran Islam tersebut, karena tidak semua hadis dapat dimaknai secara tekstual. Sebuah hadis kadang lebih tepat dipahami secara kontekstual.</span></p>
<div><!--[if !supportFootnotes]--></p>
<hr size="1" /><!--[endif]--></p>
<div id="ftn1">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-top:6pt;margin-left:0;text-indent:36.8pt;"><a name="_ftn1" href="#_ftnref1"><span class="FootnoteCharacters"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="FootnoteCharacters"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">A. Yani Abeveiro,<em> Penguasa, Oposisi, dan Ekstrimis dalam Khilafah Islam; Mapping Historis,</em> dalam A. Maftuh Abegebriel, dkk., <em>Negara Tuhan: The Thematic Encyclopaedia,</em> (Yogyakarta: SR-Ins, 2004), hlm. 43.</span></p>
</div>
<div id="ftn2">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-top:6pt;margin-left:0;text-indent:36.8pt;"><a name="_ftn2" href="#_ftnref2"><span class="FootnoteCharacters"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="FootnoteCharacters"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">[2]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Azzumardi Azra, <em>Pergolakan Politik Islam, dari Fundamentalisme, Modernisme, hingga Post Modernisme</em>, (Jakarta:Paramadina, 1996), hlm. I-ii.</span></p>
</div>
<div id="ftn3">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-top:6pt;margin-left:0;text-indent:36.8pt;"><a name="_ftn3" href="#_ftnref3"><span class="FootnoteCharacters"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="FootnoteCharacters"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">[3]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><em><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Ibid.</span></em></p>
</div>
<div id="ftn4">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-top:6pt;margin-left:0;text-indent:36.8pt;"><a name="_ftn4" href="#_ftnref4"><span class="FootnoteCharacters"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="FootnoteCharacters"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">[4]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Abdul Rashid Moten, <em>Ilmu Politik Islam</em>, (Bandung: Bandung Pustaka, 2001), hlm 30.</span></p>
</div>
<div id="ftn5">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-top:6pt;margin-left:0;text-indent:36.8pt;"><a name="_ftn5" href="#_ftnref5"><span class="FootnoteCharacters"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="FootnoteCharacters"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">[5]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Lihat Munawir Syadzali, <em>Islam dan Tata Negara, Sejarah, Ajaran, dan Pemikiran</em>, (Jakarta: UI-Press, 1993), hlm 46.</span></p>
</div>
<div id="ftn6">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-top:6pt;margin-left:0;text-indent:36.8pt;"><a name="_ftn6" href="#_ftnref6"><span class="FootnoteCharacters"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="FootnoteCharacters"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">[6]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Abdul Rashid Moten,<span> </span><em>Ilmu Politik&#8230;,<span> </span></em>hlm 32.</span></p>
</div>
<div id="ftn7">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-top:6pt;margin-left:0;text-indent:36.8pt;"><a name="_ftn7" href="#_ftnref7"><span class="FootnoteCharacters"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="FootnoteCharacters"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">[7]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Munawir Syadzali, <em>slam dan Tata Negara&#8230;,</em> hlm 2; lihat juga Muhammad Azhar, <em>Filsafat politik, Perbandingan antara Islam dan Barat</em>, (Jakarta: Rajawali Pers, 2001), hlm 61.</span></p>
</div>
<div id="ftn8">
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;margin-left:0;text-indent:36.8pt;"><a name="_ftn8" href="#_ftnref8"><span class="FootnoteCharacters"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="FootnoteCharacters"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">[8]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">Pada awalnya, Istilah fundamentalisme muncul di kalangan para penganut Kristen Protestan di Amerika Serikat, sekitar tahun 1910-an. </span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">Fundamentalisme dianggap sebagai aliran yang berpegang teguh pada “fundamen” agama Kristen melalui penafsiran yang rigid dan literalis terhadap kitab suci agama, yang merupakan respon terhadap teologi liberal-modernisme dan gejala sekulerisme. Dengan melihat perkembangan historis dan fenomenafundamentalisme Kristen, sementara orang menolak penggunaan Istilah Fundamentalisme untuk menyebut gejala keagamaan di kalangan muslim. Lebih lanjut lihat A. Maftuh Abegebriel dan Ibida Syitaba, Fundamentalisme <em>Islam: Akar Teologis dan Politis</em>, dalam A. Maftuh Abegebriel, dkk,<em>Negara Tuhan: The Thematic..</em>., hlm.495-519; lihat juga <em>Fundamentalism</em>, dalam <em>The Oxford English Dictionary</em>, 1988; Hadimulyo, <em>&#8220;Fundamentalime Islam: Istilah yang dapat menyesatkan</em>”, dalam jurnal Ulumul Qur’an, nomor 3 vol IV, 1993; Riffat Hassan, <em>Mempersoalkan Istilah Fundamentalisme Islam</em>, dalam jurnal yang sama; Oliver Roy, <em>The Failure of Political Islam</em>, terj. </span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">Harimurti dan Qamaruddin SF, (Jakarta: Serambi, 1996).</span><span class="FootnoteCharacters"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US"><span> </span></span></span></p>
</div>
<div id="ftn9">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-top:6pt;margin-left:0;text-indent:36.8pt;"><a name="_ftn9" href="#_ftnref9"><span class="FootnoteCharacters"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="FootnoteCharacters"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">[9]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Maftuh Abegebriel, <em>Negara Tuhan: The Thematic..</em>., hlm. 195.</span></p>
</div>
<div id="ftn10">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-top:6pt;margin-left:0;text-indent:36.8pt;"><a name="_ftn10" href="#_ftnref10"><span class="FootnoteCharacters"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="FootnoteCharacters"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">[10]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><em><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Ibid</span></em><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">, hlm. 196.</span></p>
</div>
<div id="ftn11">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-top:6pt;margin-left:0;text-indent:36.8pt;"><a name="_ftn11" href="#_ftnref11"><span class="FootnoteCharacters"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="FootnoteCharacters"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">[11]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><em><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Ibid</span></em><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">, hlm. 196-198.</span></p>
</div>
<div id="ftn12">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-top:6pt;margin-left:0;text-indent:36.8pt;"><a name="_ftn12" href="#_ftnref12"><span class="FootnoteCharacters"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="FootnoteCharacters"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">[12]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><em><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Ibid</span></em><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">, hlm. 538; lebih lanjut lihat Nazih Ayubi, <em>Political Islam: Religion and Politics in The Arab World</em>, (London: Roatledge, 1991), hlm. 96-98; John L. Esposito, <em>Ensklopedi Oxford, Dinamika Islam Modern</em>, terj. Eva YN dkk., (Bandung: Mizan, 2002), Jilid 2, hlm. 172-174. </span></p>
</div>
<div id="ftn13">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-top:6pt;margin-left:0;text-indent:36.8pt;"><a name="_ftn13" href="#_ftnref13"><span class="FootnoteCharacters"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="FootnoteCharacters"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">[13]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Berbeda dengan gerakan Islam politik lainnya yang<span> </span>menerima konsep nasionalisme dan menganggap bahwa syariat Islam masih bisa diterapkan dalam bingkai <em>nation-state</em>, <em>H{izb al Tah{ri&gt;r</em> masih tetap menyakini bahwa hanya dengan rstorasi terhadap kekhalifahan Islam, hukum Islam dapat dilaksanakan secara menyeluruh. Bagi <em>H{izb al Tah{ri&gt;r</em>, penerapan hukum Islam dalam sistem sekuler adalah problematik karena akan mengakibatkan kompromi yang akan mengamputasi sebagian hukum Islam dan menempatkan masalah-masalah penting, seperti ekonomi dan politik, di tangan sistem non Islami. Sehingga <em>H{izb al Tah{ri&gt;r</em>, sebagai sebuah partai politik, menolak untuk berpartisipasi dalam sistem sekuler. <em>Ibid</em>, hlm. 536,698. lihat juga Taqi al-Din al-Nabhani, <em>Mafahim </em><em>H{izb al Tah{ri&gt;r</em>, edisi Indonesia, (Jakarta: HTI, 2006), hlm. 120-122.</span></p>
</div>
<div id="ftn14">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-top:6pt;margin-left:0;text-align:left;text-indent:36.8pt;" align="left"><a name="_ftn14" href="#_ftnref14"><span class="FootnoteCharacters"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="FootnoteCharacters"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">[14]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">lihat <em>H{izb al Tah{ri&gt;r</em>, <em>Ajhizah al-Dawlah al-Khilafah</em>, tkp:Dar al-Ummah, 2005.</span></p>
</div>
<div id="ftn15">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-top:6pt;margin-left:0;text-indent:36.8pt;"><a name="_ftn15" href="#_ftnref15"><span class="FootnoteCharacters"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="FootnoteCharacters"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">[15]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Syuhudi Ismail, Kaedah <em>Kesahihan Sanad Hadis: Telaah Kritis dan Tinjauan dengan Pendekatan Ilmu Sejarah</em>, (Jakarta: Bulan Bintang, 1995), hlm. 27.</span></p>
</div>
<div id="ftn16">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><a name="_ftn16" href="#_ftnref16"></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-left:0;text-align:justify;text-indent:35.45pt;"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="IN">[16]</span></span><!--[endif]--></span></span></span><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Pendekatan ini merupakan adopsi dari teori Amin Abdullah dalam melihat fenomena keberagamaan manusia yang dapat dilihat dari berbagai sudut pendekatan. Di antaranya adalah normativitas dan historisitas. Lihat Amin Abdullah, <em>Studi Agama; Normativitas atau Historisitas </em>(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996).</span></p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/masghent.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/masghent.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/masghent.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/masghent.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/masghent.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/masghent.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/masghent.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/masghent.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/masghent.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/masghent.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/masghent.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/masghent.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/masghent.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/masghent.wordpress.com/13/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masghent.wordpress.com&amp;blog=6767948&amp;post=13&amp;subd=masghent&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://masghent.wordpress.com/2009/02/28/artikel-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5ccfa78cad0e8440f616e003aba3e9d2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">masghent</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Etika Lingkungan</title>
		<link>http://masghent.wordpress.com/2009/02/28/artikel/</link>
		<comments>http://masghent.wordpress.com/2009/02/28/artikel/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Feb 2009 07:56:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>masghent</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://masghent.wordpress.com/?p=10</guid>
		<description><![CDATA[ETIKA LINGKUNGAN Permasalahan lingkungan hidup mendapat perhatian besar dari hampir semua negara-negara di dunia. Ini terutama terjadi dalam dasawarsa 1970-an setelah diadakannya konferensi PBB tentang lingkungan hidup di Stokholm pada tanggal 5 Juni 1972. Konferensi ini kemudian dikenal dengan Konferensi Stokholm, dan pada hari dan tanggal itulah kemudian ditetapkan sebagai hari lingkungan hidup se-dunia. Di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masghent.wordpress.com&amp;blog=6767948&amp;post=10&amp;subd=masghent&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:Garamond;" lang="EN-US">ETIKA LINGKUNGAN</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:Garamond;" lang="EN-US"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:Garamond;letter-spacing:-.2pt;" lang="EN-US">Permasalahan lingkungan hidup mendapat </span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:Garamond;" lang="EN-US">perhatian besar dari hampir semua negara-negara di dunia. Ini terutama terjadi dalam <span style="letter-spacing:-.15pt;">dasawarsa 1970-an setelah diadakannya konferensi PBB tentang lingkungan hidup </span><span style="letter-spacing:-.05pt;">di Stokholm pada </span><span style="letter-spacing:-.15pt;">tanggal 5 Juni 1972</span><span style="letter-spacing:-.05pt;">. Konferensi ini kemudian dikenal dengan </span><span style="letter-spacing:-.15pt;">Konferensi Stokholm, dan pada hari dan tanggal itulah kemudian ditetapkan sebagai hari lingkungan hidup se-dunia.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:Garamond;letter-spacing:-.1pt;" lang="EN-US">Di Indonesia, perhatian tentang lingkungan hidup telah muncul di media </span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:Garamond;letter-spacing:-.05pt;" lang="EN-US">massa sejak tahun 1960-an. Suatu tonggak sejarah tentang lingkungan hidup di </span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:Garamond;letter-spacing:-.15pt;" lang="EN-US">Indonesia ialah diselenggarakannya Seminar Pengelolaan Lingkungan Hidup dan </span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:Garamond;letter-spacing:-.1pt;" lang="EN-US">Pembangunan Nasional oleh Universitas Padjajaran di Bandung pada tanggal 15-</span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:Garamond;letter-spacing:-.15pt;" lang="EN-US">18 Mei 1972. Seminar itu merupakan seminar pertama tentang </span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:Garamond;letter-spacing:-.2pt;" lang="EN-US">lingkungan hidup yang diadakan di Indonesia.<a name="_ftnref1" href="#_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:Garamond;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:Garamond;letter-spacing:-.2pt;" lang="EN-US">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a> Selain itu, pada awal Juli 1973, Dr. Sumarlin dalam rangka Hari Lingkungan Hidup Dunia menyatakan adanya tiga prioritas dalam menanggulangi problematika lingkungan di negeri ini, antara lain: di lautan (pertambangan minyak di lepas pantai) dan di perkotaan (unrbanisasi liar dan indutrialisasi yang pincang).<a name="_ftnref2" href="#_ftn2"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:Garamond;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:Garamond;letter-spacing:-.2pt;" lang="EN-US">[2]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:Garamond;" lang="EN-US">Diakui atau tidak, bahwa munculnya kerusakan alam adalah akibat dari ulah manusia. Ini terbukti dengan </span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:Garamond;letter-spacing:-.15pt;" lang="EN-US">pesatnya pembangunan dewasa ini, selain memberikan dampak yang </span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:Garamond;letter-spacing:-.1pt;" lang="EN-US">menggembirakan karena banyaknya manfaat yang telah dirasakan manusia untuk </span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:Garamond;" lang="EN-US">kemudahan dalam menjalani kehidupanya, juga memberikan dampak negatif <span style="letter-spacing:-.15pt;">berupa sumber daya alam dan lingkungan yang banyak mengalami degradasi. Jika </span><span style="letter-spacing:-.1pt;">kondisi ini terus berlanjut, daya dukung lingkungan bumi tidak akan sanggup lagi <span style="color:#303030;">menanggung bebannya. Akibatnya adalah kehancuran semua spesies yang ada di </span></span><span style="color:#303030;letter-spacing:-.2pt;">dunia, termasuk manusia.<a name="_ftnref3" href="#_ftn3"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:Garamond;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:Garamond;color:#303030;letter-spacing:-.2pt;" lang="EN-US">[3]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:Garamond;" lang="EN-US">Pada hakikatnya, kerusakan alam dimunculkan akibat perubahan paradigma epistemologi barat yang terlalu mengandalkan temuan-temuan sains modern. Ini artinya percobaan mesin-mesin hasil temuannya mengakibatkan kerusakan alam secara global. <span>Kenyataan yang sedemikian menghebohkan ini mengundang para pemikir Barat sendiri untuk mengkritisi corak pemikiran epistemologi sains Barat. Salah satunya adalah Gregory Bateson, yang pemikirannnya berciri-khaskan keprihatinan. Bateson menyatakan bahwa kesalahan epistemologi Barat melahirkan ancaman bencana, mulai dari obat pembasmi serangga sampai polusi, jatuhan radio aktif dan kemungkinan melelehnya es antartika sampai pada taraf desakan yang sangat kuat untuk menyelamatkan kehidupan individual yang berakibat terciptanya kemungkinan bahaya kelaparan dunia di masa mendatang. Lebih jauh Bateson mengungkapkan, alangkah beruntungnya bila kita masih bisa melampaui dua puluh tahun ke depan tanpa adanya bencana yang lebih serius daripada kehancuran suatu bangsa atau sekelompok bangsa semata. Ini semua akibat dari kesalahan-kesalahan dalam kebiasaan-kebiasaan pemikiran kita pada tingkat yang sangat mendalam tanpa sepenuhnya kita sadari”.<a name="_ftnref4" href="#_ftn4"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:Garamond;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:Garamond;" lang="EN-US">[4]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a> Dengan demikian, gejala perusakan semacam ini bisa dikategorikan sebagai overeksploitasi alam.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:Garamond;letter-spacing:-.1pt;" lang="EN-US">Akibat-akibat dari overeksploitasi manusia terhadap alam, lingkungan dan sumber daya-sumber daya lainnya adalah munculnya—apa yang sering disebut sebagai—<em>pollutin</em>, yaitu suatu pencemaran atau polusi yang membahayakan yang disebarkan ke dalam lingkungan karena aktivitas manusia. Sementara overeksploitasi pada awalnya ditujukan untuk memeras sumberdaya alam sebanyak-banyaknya guna memperpanjang hidup manusia. Akan tetapi overeksploitasi ini juga mengakibatkan<span> </span>terganggunya keseimbangan ekologis, dalam arti menyederhanakan ekosistem; berupa aktivitas manusia yang bersenjatakan teknologi baik jenis yang tradisional maupun yang modern, menyederhanakan biome dan habitat, sehingga kekomplekan yang stabil menjadi goyah, yang mengakibatkan simfoni alam menjadi kakofoni.<a name="_ftnref5" href="#_ftn5"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:Garamond;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:Garamond;letter-spacing:-.1pt;" lang="EN-US">[5]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:Garamond;color:#303030;letter-spacing:-.1pt;" lang="EN-US">Di sisi lain untuk memenuhi kebutuhan dan kepentingan manusia yang semakin berkembang, dunia telah kehilangan kurang lebih 116 mil persegi hutan </span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:Garamond;color:#303030;letter-spacing:-.15pt;" lang="EN-US">hujan, 72 mil di antaranya jadi gurun, kehilangan 40-100 spesies makhluk hidup, </span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:Garamond;color:#303030;letter-spacing:-.05pt;" lang="EN-US">bertambahnya <em>clorofluro carbon </em>(CFC) sebanyak lebih kurang 2.700 ton, <em>carbon </em></span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:Garamond;color:#303030;letter-spacing:.05pt;" lang="EN-US">di atmosfir sebanyak 15 juta ton.<a name="_ftnref6" href="#_ftn6"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:Garamond;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:Garamond;color:#303030;letter-spacing:.05pt;" lang="EN-US">[6]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a> Data ini telah membuktikan bahwa manusia </span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:Garamond;color:#303030;letter-spacing:-.15pt;" lang="EN-US">saat ini telah melakukan banyak sekali kerusakan terhadap bumi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:Garamond;color:#303030;letter-spacing:-.05pt;" lang="EN-US">Tidak bisa disangkal bahwa berbagai kasus kerusakan lingkungan hidup yang terjadi sekarang ini, baik pada lingkup global maupun lingkup nasional, </span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:Garamond;color:#303030;letter-spacing:-.15pt;" lang="EN-US">sebagian besar bersumber dari perilaku manusia. Kasus-kasus pencemaran dan </span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:Garamond;color:#303030;letter-spacing:-.05pt;" lang="EN-US">kerusakan, seperti di laut, hutan, atmosfir, air, tanah, dan seterusnya bersumber </span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:Garamond;color:#303030;letter-spacing:-.15pt;" lang="EN-US">pada perilaku manusia yang tidak bertanggung jawab, tidak peduli dan hanya </span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:Garamond;color:#303030;letter-spacing:-.1pt;" lang="EN-US">mementingkan diri sendiri. Manusia adalah penyebab utama dari kerusakan dan </span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:Garamond;color:#303030;letter-spacing:-.15pt;" lang="EN-US">pencemaran lingkungan.<a name="_ftnref7" href="#_ftn7"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:Garamond;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:Garamond;color:#303030;letter-spacing:-.15pt;" lang="EN-US">[7]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><sup> </sup>Mengenai hal ini sejalan dengan firman Allah dalam QS. Ar-Rum [30]: 41.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:45pt;text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;font-family:Garamond;color:#303030;letter-spacing:-.15pt;" lang="EN-US">Artinya:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:45pt;text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;font-family:Garamond;color:#303030;letter-spacing:-.15pt;" lang="EN-US">Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan Karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS. Ar-Rum [30]: 41)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="line-height:150%;font-family:Garamond;color:#303030;letter-spacing:-.15pt;" lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:Garamond;color:black;letter-spacing:.35pt;" lang="EN-US">Oleh karena itulah, untuk menanggulangi kerusakan dan pencemaran ini </span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:Garamond;color:black;letter-spacing:-.15pt;" lang="EN-US">dibutuhkan kesadaran dan partisipasi dari segenap elemen masyarakat. Karena ekologi sangat berharap pada kesadaran manusia sebagai <em>the highest animal</em> yang paling mampu beradaptasi dengan lingkungan. Selain itu, di antara organisme-organisme yang ada, hanya homo sapienslah yang memiliki kesadaran berevolusi dan mampu mengarahkan dengan cara memanfaatkan segenap sifat intelektual, sosial dan spiritual.<a name="_ftnref8" href="#_ftn8"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:Garamond;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:Garamond;color:black;letter-spacing:-.15pt;" lang="EN-US">[8]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:Garamond;color:black;letter-spacing:-.15pt;" lang="EN-US"><span> </span></span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:Garamond;color:#323232;letter-spacing:.1pt;" lang="EN-US">Berbagai kerusakan lingkungan sebenarnya tidak </span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:Garamond;color:#323232;" lang="EN-US">pernah lepas dari bagaimana sikap manusia dalam memanfaatkan alam. Cara <span style="letter-spacing:-.15pt;">pandang antroposentris telah membawa manusia pada titik puncak kekuasaannya </span><span style="letter-spacing:-.1pt;">terhadap alam. Sikap mementingkan diri sendiri dan sikap tidak bertanggung jawab atas perbuatannya terhadap lingkungan, telah menyebabkan </span><span style="letter-spacing:-.15pt;">manusia sebagai dalang utama dalam kerusakan lingkungan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:Garamond;color:#323232;letter-spacing:-.05pt;" lang="EN-US">Terlepas dari berbagai kerusakan alam yang terjadi, memang sudah ada hukum dan undang-undang mengenai lingkungan hidup. Tetapi perundang-undangan dan hukum-hukum tersebut belum begitu maksimal dalam aplikasi di lapangan. Hal ini mendorong penulis untuk mengkaji ulang aspek hukum positif </span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:Garamond;color:#323232;letter-spacing:.05pt;" lang="EN-US">yang melindungi kelestarian lingkungan. Karena peran hukum sangat penting </span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:Garamond;color:#323232;letter-spacing:-.05pt;" lang="EN-US">dalam mengatasi persoalan lingkungan. Terlebih manusia sebagai makhluk sosial mempunyai dua keterikatan hukum, yaitu sebagai warna Negara dan sebagai pemeluk suatu agama.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:Garamond;color:#323232;letter-spacing:-.05pt;" lang="EN-US">Dalam Islam, alam dan manusia merupakan dua entitas yang berbeda tetapi hakikatnya adalah sama, atau dengan lain kata—meminjam istilah sufi—“satu jiwa yang terperangkap dalam dua tubuh”. Dalam pandangan Jalaluddin Rumi, ini artinya bahwa alam semesta merupakan makhluk yang dikarunia kehidupan, bahkan kecerdasan, sehingga ia mampu mencinta dan dicintai, lebih-lebih alam juga mencintai Tuhannya. Dimana Tuhan, adalah pesona yang penuh keindahan dan cinta. Dan motif Tuhan dalam menciptakan alam semesta ini adalah cinta. Alam, lingkungan dicipta oleh Tuhan atas dorongan cinta, dan karena itu, cinta Tuhan meresap ke dalam seluruh bagian alam, bahkan seluruh partikel-partikelnya. Lantas, bagaimana manusia tidak mencintai alam dan lingkungan, sementara Tuhan sebagai sang Pencipta saja selalu memanjakan dan mencintai alam. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:Garamond;color:black;letter-spacing:-.15pt;" lang="EN-US">Dalam hal ini, pemerintah Indonesia sebenarnya sudah membuat aturan tentang lingkungan. </span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:Garamond;color:black;letter-spacing:-.05pt;" lang="EN-US">Pemerintah membuat departemen khusus yang mengurusi masalah ini. Langkah</span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:Garamond;color:black;" lang="EN-US"> yang dilakukan oleh pemerintah dengan membuat Departemen </span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:Garamond;color:#323232;letter-spacing:.1pt;" lang="EN-US">Lingkungan Hidup dan Departemen Kehutanan dan Perkebunan ini sebagai </span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:Garamond;color:#323232;letter-spacing:-.15pt;" lang="EN-US">upaya untuk merawat dan menjaga alam agar tidak rusak oleh tangan-tangan kotor manusia yang tidak bertanggung jawab.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:Garamond;color:#323232;letter-spacing:-.1pt;" lang="EN-US">Sampai sejauh ini, upaya kesadaran manusia secara individu akan pentingnya pelestarian dan etika linkungan hanya berimplikasi sedikit. Oleh karena itu, perlu dilakukan sebuah </span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:Garamond;" lang="EN-US">pendekatan pengelolaan lingkungan hidup yang berbasis masyarakat. Dengan mengacu pada perspektif Carter (1996) yang bahwa pengelolaan sumber daya berbasis masyarakat merupakan suatu strategi untuk mencapai pembangunan yang berpusat pada manusia, dimana pusat pengambilan keputusan mengenai pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan di suatu daerah terletak di tangan masyarakat tersebut. Dalam hal ini, masyarakat sendiri yang mendefinisikan kebutuhan, aspirasi, tujuan, membuat perencanaan dan keputusan demi kesejahteraan mereka. Jadi, dalam model pengelolaan berbasis masyarakat ini memberikan ruang yang luas untuk partisipasi masyarakat untuk ikut aktif dalam proses pengelolaan dan pelestarian lingkungan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:Garamond;" lang="EN-US">Secara antropologis, masyarakat bukanlah entitas yang independen. Terdapat seperangkat nilai, moral dan pranata yang memengaruhi perilaku individu dalam masyarakat. Pengetahuan dan keyakinan dalam masyarakat merupakan seperangkat konsep, nilai, sistem kategori, metode dan teori-teori yang digunakan secara selektif dalam berhubungan dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Dengan demikian etika lingkungan berbasis masyarakat sangat dipengaruhi oleh cara pandang, budaya dan keyakinan nilai yang melingkupi masyarakat setempat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:Garamond;color:#323232;letter-spacing:-.1pt;" lang="EN-US">Oleh karena itu, usaha ini haruslah menjadi kesadaran kolektif masyarakat baik sebagai warga Negara serta pemeluk agama, sehingga akan terasa pengaruh yang signifikan.<span> </span>Artinya, sebagai warga Negara harus menyikapi hukum secara positif dan mematuhinya, dan sebagai pemeluk suatu agama (baca: Islam) harus memiliki nurani untuk membaca ulang firman Tuhan yang mengajarkan manusia untuk bersikap <em>‘arif</em> terhadap lingkungan dan mematuhi ajaran normatif dalam agama itu sendiri. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:Garamond;" lang="EN-US">Dengan demikian, Islam sebagai seperangkat nilai memiliki peranan signifikan dalam pengelolaan sumber daya alam, khususnya pengelolaan ekosistem berbasis masyarakat di Indonesia. Hal ini didukung oleh realitas bahwa masyarakat Indonesia merupakan masyarakat agamis sebagaimana ditunjukkan oleh beragam data statistik tentang jumlah pemeluk agama Islam di Indonesia. Dengan demikian peluang untuk rehabilitasi lingkungan hidup melalui pintu kesadaran keberagamaan menjadi lebih terbuka, tergantung bagaimana agama atau institusi keagamaan merumuskan etika lingkungan yang mengarah pada konstruksi alam yang serba damai, tentram tanpa kerusakan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:Garamond;color:#323232;letter-spacing:-.1pt;" lang="EN-US">Selanjutnya, berdasarkan beberapa contoh ataupun cara-cara pelestarian lingkungan </span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:Garamond;color:#323232;" lang="EN-US">sebagaimana tersebut di atas, perlu kiranya untuk meninjau ulang pola dan bentuk hukum Islam dan <span style="letter-spacing:.15pt;">hukum positif—dalam hal ini yang menjadi acuan adalah UU Nomor 23 Tahun </span></span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:Garamond;color:black;" lang="EN-US">1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup—menyikapi hal-hal mengenai <span style="letter-spacing:.25pt;">pelestarian lingkungan, serta perspektif keduanya mengenai </span><span style="letter-spacing:-.2pt;">kerusakan lingkungan dan cara penanggulangannya. Terlepas dari dialektika dalam agama, bahwa hal ini juga merupakan proses menilik ulang tentang jargon mengenai baik dan buruknya sebuah Negara bisa dilihat dari ada dan tidaknya atau berjalan dan dijalankannya hukum tentang lingkungan hidup, serta bagaimana menjalankan hukum-hukum tersebut.[g]</span></span></p>
<div><!--[if !supportFootnotes]--></p>
<hr size="1" /><!--[endif]--></p>
<div id="ftn1">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><a name="_ftn1" href="#_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:Garamond;" lang="EN-US"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:Garamond;" lang="EN-US">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-family:Garamond;" lang="SV">Otto Soemarwoto<em>, Ekologi Lingkungan Hidup dan Pengembangan</em> (Jakarta: Djambatan, 2001), hlm. 1</span></p>
</div>
<div id="ftn2">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><a name="_ftn2" href="#_ftnref2"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:Garamond;" lang="EN-US"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:Garamond;" lang="EN-US">[2]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-family:Garamond;" lang="EN-US"> Harian Kompas, 7 Juni 1973, “Tiga Prioritas Dalam Menanggulangi Lingkungan Hidup di Indonesia” </span></p>
</div>
<div id="ftn3">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><a name="_ftn3" href="#_ftnref3"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:Garamond;" lang="EN-US"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:Garamond;" lang="EN-US">[3]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-family:Garamond;" lang="SV">Lester R. Brown, Dkk<em>, Masa Depan Bumi</em>, terj. Handoko (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1995), hlm. 477 </span></p>
</div>
<div id="ftn4">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:36pt;"><a name="_ftn4" href="#_ftnref4"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="EN-US"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;" lang="EN-US">[4]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span lang="EN-US"> </span><span style="font-family:Garamond;" lang="IN">Gregory Bateson, <em>Step an Ecology of Mind</em> (Paladin: t.p., 1973), hlm. 463,</span></p>
</div>
<div id="ftn5">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><a name="_ftn5" href="#_ftnref5"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:Garamond;" lang="EN-US"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:Garamond;" lang="EN-US">[5]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-family:Garamond;" lang="EN-US">N. Daldjoeni, “Ekologi dan Agama” dalam M. Amin Abdullah, dkk, <em>Re-strukturalisasi Metodologi Islamic Studies Mazhab Yogyakarta</em> (Yogyakarta: Suka-Press, 2007), hlm. 155. </span></p>
</div>
<div id="ftn6">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><a name="_ftn6" href="#_ftnref6"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:Garamond;" lang="EN-US"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:Garamond;" lang="EN-US">[6]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-family:Garamond;letter-spacing:-.05pt;" lang="IN">Persoalan ini dikemukan oleh Drs. I Wayan S. Satria MM, dosen Etika Institut Ilmu </span><span style="font-family:Garamond;" lang="IN">Sosial dan ilmu Politik (IISP) Jakarta, juga dosen Filsafat di Universitas Gajah Mada yogyakarta, <span style="letter-spacing:-.1pt;">jum&#8217;at 3 Feb 2006. Lihat Erwin Edhi Prasetya, <em>&#8220;Membangun Etika Lewat Kearifan Masyarakat </em></span><em>Kompas, </em>Sabtu, 4 Feb 2006, hlm. 5.</span></p>
</div>
<div id="ftn7">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><a name="_ftn7" href="#_ftnref7"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:Garamond;" lang="EN-US"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:Garamond;" lang="EN-US">[7]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-family:Garamond;" lang="IN">A. Sonny Keraf, <em>Etika Lingkungan, </em>(Jakarta: Kompas, 2002), hlm xiii. </span></p>
</div>
<div id="ftn8">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:36pt;"><a name="_ftn8" href="#_ftnref8"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:Garamond;" lang="EN-US"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:Garamond;" lang="EN-US">[8]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-family:Garamond;" lang="EN-US">N. Daldjoeni, “Ekologi dan Agama” ., hlm. <span> </span></span></p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/masghent.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/masghent.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/masghent.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/masghent.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/masghent.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/masghent.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/masghent.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/masghent.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/masghent.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/masghent.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/masghent.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/masghent.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/masghent.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/masghent.wordpress.com/10/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masghent.wordpress.com&amp;blog=6767948&amp;post=10&amp;subd=masghent&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://masghent.wordpress.com/2009/02/28/artikel/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5ccfa78cad0e8440f616e003aba3e9d2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">masghent</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sugeng Rawuh</title>
		<link>http://masghent.wordpress.com/2009/02/28/sugeng-rawuh/</link>
		<comments>http://masghent.wordpress.com/2009/02/28/sugeng-rawuh/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Feb 2009 06:19:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>masghent</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Sugeng Rawuh di rumah kami&#8230;<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masghent.wordpress.com&amp;blog=6767948&amp;post=1&amp;subd=masghent&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sugeng Rawuh di rumah kami&#8230;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/masghent.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/masghent.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/masghent.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/masghent.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/masghent.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/masghent.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/masghent.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/masghent.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/masghent.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/masghent.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/masghent.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/masghent.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/masghent.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/masghent.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masghent.wordpress.com&amp;blog=6767948&amp;post=1&amp;subd=masghent&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://masghent.wordpress.com/2009/02/28/sugeng-rawuh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5ccfa78cad0e8440f616e003aba3e9d2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">masghent</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
